Social Items


Kartini-Kartini Indonesia tidak hanya terlahir dari lingkungan yang berlimpah materi dan pendidikan tinggi. Dari lorong-lorong kehidupan kaum proletar, juga tumbuh ribuan Kartini.

Siti Maimunah, buruh kuli bangunan adalah potret Kartini Indonesia yang tidak pernah lapuk oleh modernisasi. Demi sesuap nasi, Dia tinggalkan kehidupan yang sesungguhnya yaitu anak - anak.

Setiap hari, tanpa ada hari libur pasti, Siti maimunah mencoba mengais rezeki sebagai buruh kuli bangunan di lingkungannya. Berat, letih, dan badan pegel-pegel adalah santapan yang harus dinikmati setiap hari oleh Gadis kecil asal Randuagung itu. Bagaimana tidak, ketika bekerja Siti Maimunah bisa mengangkut barang seberat 20 Kg lebih sekali angkut. Hanya betul-betuk pengen sekolah, dia harus mengangkat "lolo" (bahasa maduranya) yang biasanya hanya layak di lakukana oleh orang  dewasa.

Setiap hari, pulang dari sekolah, Siti Maimunah sudah bergerak langsung menuju tempat kerja tanpa terlebih dahulu menikmati indahnya bemainan sebagimana umumnya anak - anak. Meski hanya bekerja sebagai buruh kuli bangunan dengan penghasilan sekitar Rp 10.000 setiap setengah hari, Siti Maimunah mampu mencukupi sebagian  membiayai sekolahnya.

Ketika di tanya tentang Kuliah. "Kalau kuliah, tentu aku nggak mampu,” tuturnya, seraya tersenyum.

Siti Maimunah Gadis tangguh asal Dusun Krajan Randuagung ini adalah potret Kartini kecil di level bawah yang tidak pernah hilang selama kemiskinan masih menyelimuti rakyat. Demi masa depanya, perempuan kecil ini rela tulang - tulangnya harus mengangkat berkilo-kilo barang setiap hari. Hanya satu yang ada dalam benak Siti, yakni menjadi anak yang mandiri dan bertanggungjawab atas masa depannya. Statusnya sebagai kalangan kelas bawah bukan penghalang untuk terus mengejar impianya yaitu masa depan yang cerah.

Hidup seperti dia tentulah tidak mudah. Namun di tengah-tengah kepenatan fisik dan pikiran, ada saja hiburan untuk menyenangkan diri. Seperti apa yang dilakukan Siti kemarin siang yang bernyanyi-nyanyi. “Mon paya, sakek gabbhi, gibeh nyanyi la beres.
” ujar Siti, sambil tertawa panjang.

Gadis Tangguh, Asal Randuagung


Kartini-Kartini Indonesia tidak hanya terlahir dari lingkungan yang berlimpah materi dan pendidikan tinggi. Dari lorong-lorong kehidupan kaum proletar, juga tumbuh ribuan Kartini.

Siti Maimunah, buruh kuli bangunan adalah potret Kartini Indonesia yang tidak pernah lapuk oleh modernisasi. Demi sesuap nasi, Dia tinggalkan kehidupan yang sesungguhnya yaitu anak - anak.

Setiap hari, tanpa ada hari libur pasti, Siti maimunah mencoba mengais rezeki sebagai buruh kuli bangunan di lingkungannya. Berat, letih, dan badan pegel-pegel adalah santapan yang harus dinikmati setiap hari oleh Gadis kecil asal Randuagung itu. Bagaimana tidak, ketika bekerja Siti Maimunah bisa mengangkut barang seberat 20 Kg lebih sekali angkut. Hanya betul-betuk pengen sekolah, dia harus mengangkat "lolo" (bahasa maduranya) yang biasanya hanya layak di lakukana oleh orang  dewasa.

Setiap hari, pulang dari sekolah, Siti Maimunah sudah bergerak langsung menuju tempat kerja tanpa terlebih dahulu menikmati indahnya bemainan sebagimana umumnya anak - anak. Meski hanya bekerja sebagai buruh kuli bangunan dengan penghasilan sekitar Rp 10.000 setiap setengah hari, Siti Maimunah mampu mencukupi sebagian  membiayai sekolahnya.

Ketika di tanya tentang Kuliah. "Kalau kuliah, tentu aku nggak mampu,” tuturnya, seraya tersenyum.

Siti Maimunah Gadis tangguh asal Dusun Krajan Randuagung ini adalah potret Kartini kecil di level bawah yang tidak pernah hilang selama kemiskinan masih menyelimuti rakyat. Demi masa depanya, perempuan kecil ini rela tulang - tulangnya harus mengangkat berkilo-kilo barang setiap hari. Hanya satu yang ada dalam benak Siti, yakni menjadi anak yang mandiri dan bertanggungjawab atas masa depannya. Statusnya sebagai kalangan kelas bawah bukan penghalang untuk terus mengejar impianya yaitu masa depan yang cerah.

Hidup seperti dia tentulah tidak mudah. Namun di tengah-tengah kepenatan fisik dan pikiran, ada saja hiburan untuk menyenangkan diri. Seperti apa yang dilakukan Siti kemarin siang yang bernyanyi-nyanyi. “Mon paya, sakek gabbhi, gibeh nyanyi la beres.
” ujar Siti, sambil tertawa panjang.

Subscribe Our Newsletter