-->

    Social Items

Candi Agung Randuagung

Nambi adalah putra Arya Wiraraja sebagaimana tercantum dalam Babad Pararaton dan Kidung Harsa Wijaya. Tempat kelahirannya diperkirakan di Lamajang sebagaimana ayahnya. Sebagai putra Arya Wiraraja, Nambi kemudian banyak mengikuti jejak sang ayah untuk mengabdi pada kerajaan Singosari dan menempuh pendidikan di ibu kota. Sebagai putra Arya Wiraraja yang menjadi penasehat Wangsa Rajasa, ia kemudian mengabdikan dirinya menjadi pengikut Raden Wijaya yang merupakan pemimpin muda wangsa keturunan Ken Arok dan Ken Dedes ini.

Dalam pengabdiannya, ia kemudian menjadi salah seorang sahabat dekat Raden Wijaya yang menjadi salah satu panglima kerajaan Singosari. Ketika terjadi hura harta yang mengakibatkan gugurnya raja Kertanegara, Raden Wijaya kemudian menjadi buronan Jayakatwang sehingga tidak ada pejabat Singosari yang berani menerimanya. Dalam saat-sat inilah Nambi memainkan peranannya untuk membantu Raden Wijaya dengan mencari perlindungan pada sang ayah yaitu Arya Wiraraja yang waktu itu menjadi Adipati Sumenep.

Berkat pertolongan Arya Wiraraja inilah Raden Wijaya mendapat pengampunan dari Jayakatwang dan kemudian di beri hadiah sebidang tanah di hutan Terik. Pembukaan hutan Terik sendiri banyak melibatkan orang-orang Madura sehingga kemudian terbentuklah sebuah desa bernama Majapahit. Pada waktu tentara kekaisaran Mongol Tar Tar menyerang tanah Jawa dan Arya Wiraraja-lah yang memainkan peranan dengan menyediakan kekuatan pasukan Madura dan keuangan untuk membantu Raden Wijaya merebut kembali Singosari dari tangan Jayakatwang.

Setelah Jayakatwang dapat dikalahkan dan kemudian Tentara kekaisaran Mongol Tar Tar dapat diusir dari tanah Jawa, maka berdirilah 2 kerajaan besar yaitu Majapahit dengan rajanya yaitu Raden Wijaya dan Lamajang Tigang Juru dengan rajanya yaitu Arya Wiraraja. Sementara itu, karena jasa-jasanya yang luar biasa anak-anak Arya Wiraraja diangkat menjadi pembesar-pembesar kerajaan. Nambi kemudian diangkat menjadi Maha Patih dengan gelar Rakyan Maha Patih Mpu Nambi, sedang Ronggolawe yang merupakan putra Arya Wiraraja yang lain diangkat menjadi Adipati Tuban yang menguasai pelabuhan besar kerajaan Majapahit. Mereka berdua tidak mengikuti Arya Wiraraja karena kedekatannya dengan Raden Wijaya. Namun pengangkatan Nambi sebagai Maha Patih ini ditentang oleh Ronggolawe dan terjadilah perang besar antara Tuban melawan Majaphit yang berakhir dengan gugurnya Ronggolawe pada tahun 1295 Masehi.

Dalam karirnya, Mpu nambi dikenal sebagai seorang yang pendiam, lemah lembut dan setia kawan. Ia adalah seorang ahli administrasi yang ulung sehingga keahlian ini yang menjadikan raden Wijaya menunjuknya sebagai Mahapa Patih. Namun sepeninggal Raden Wijaya, kedudukan Mpu Nambi sebagaoi Maha Patih digoyang oleh seoarang penasehat wangsa sinelir bernama Mahapati. Raja Jayanagara sebagai pengganti Raden Wijaya termakan hasutannya dan menyingkirkan Maha Patih Nambi dalam kegiatan kerajaan. Penyingkiran secara halus ini kemudian mendapat momentum ketika Arya Wiraraja sakit, dimana ia kemudian menengok ke Lumajang dan tidak mau kembali ke Majapahit. Hal ini kemudian menjadi bahan fitnah dimana sang Maha Patih dituduh hendak memberontak.

Pada tahun 1316 Masehi, Arya Wiraraja yang merupakan raja Lamajang Tigang Juru dan seorang penasehat Raden Wijaya dalam perjuangan meninggal dan kejadioan ini kemudian dimanfaatkan oleh raja Jayanagara untuk menyerang Lamajang Tigang Juru. Mpu nambi yang masih melakukan konsolidasi kekuatan kemudian harus menghadapi serbuan mendadak kemudian membuat perlawanan. Benteng pertahanan Lamajang Tiagang Juru di Ganding dapat dipatahkan dengan mudah dan kemudian Mpu Nambi dan pasukan Lamajang Tigang Juru berusaha mempertahankan ibu kota Arnon (Situs Biting sekarang). Mpu Nambi tidak ingin ibu kota Lamajang rusak oleh peperangan sehingga menyiapkan pasukan di daerah “Rabut Buhayabang” (Candi Agung sekarang). Akhirnya setelah peperangan besar dan berlangsung sengit, akhirnya Mpu Nambi dikeroyok oleh 3 panglima majapahit yaitu Jabung Trewes, Lembu Peteng dan Ikal Ikalan Bang sehingga gugur. Setelah Mpu Nambi gugur, terjadilah pembantaian besar-besaran pada rakyat Lamajang Tigang Juru termasuk keluarga Mpu Nambi.

Rakyan Maha Patih Mpu Nambi

Candi Agung Randuagung

Nambi adalah putra Arya Wiraraja sebagaimana tercantum dalam Babad Pararaton dan Kidung Harsa Wijaya. Tempat kelahirannya diperkirakan di Lamajang sebagaimana ayahnya. Sebagai putra Arya Wiraraja, Nambi kemudian banyak mengikuti jejak sang ayah untuk mengabdi pada kerajaan Singosari dan menempuh pendidikan di ibu kota. Sebagai putra Arya Wiraraja yang menjadi penasehat Wangsa Rajasa, ia kemudian mengabdikan dirinya menjadi pengikut Raden Wijaya yang merupakan pemimpin muda wangsa keturunan Ken Arok dan Ken Dedes ini.

Dalam pengabdiannya, ia kemudian menjadi salah seorang sahabat dekat Raden Wijaya yang menjadi salah satu panglima kerajaan Singosari. Ketika terjadi hura harta yang mengakibatkan gugurnya raja Kertanegara, Raden Wijaya kemudian menjadi buronan Jayakatwang sehingga tidak ada pejabat Singosari yang berani menerimanya. Dalam saat-sat inilah Nambi memainkan peranannya untuk membantu Raden Wijaya dengan mencari perlindungan pada sang ayah yaitu Arya Wiraraja yang waktu itu menjadi Adipati Sumenep.

Berkat pertolongan Arya Wiraraja inilah Raden Wijaya mendapat pengampunan dari Jayakatwang dan kemudian di beri hadiah sebidang tanah di hutan Terik. Pembukaan hutan Terik sendiri banyak melibatkan orang-orang Madura sehingga kemudian terbentuklah sebuah desa bernama Majapahit. Pada waktu tentara kekaisaran Mongol Tar Tar menyerang tanah Jawa dan Arya Wiraraja-lah yang memainkan peranan dengan menyediakan kekuatan pasukan Madura dan keuangan untuk membantu Raden Wijaya merebut kembali Singosari dari tangan Jayakatwang.

Setelah Jayakatwang dapat dikalahkan dan kemudian Tentara kekaisaran Mongol Tar Tar dapat diusir dari tanah Jawa, maka berdirilah 2 kerajaan besar yaitu Majapahit dengan rajanya yaitu Raden Wijaya dan Lamajang Tigang Juru dengan rajanya yaitu Arya Wiraraja. Sementara itu, karena jasa-jasanya yang luar biasa anak-anak Arya Wiraraja diangkat menjadi pembesar-pembesar kerajaan. Nambi kemudian diangkat menjadi Maha Patih dengan gelar Rakyan Maha Patih Mpu Nambi, sedang Ronggolawe yang merupakan putra Arya Wiraraja yang lain diangkat menjadi Adipati Tuban yang menguasai pelabuhan besar kerajaan Majapahit. Mereka berdua tidak mengikuti Arya Wiraraja karena kedekatannya dengan Raden Wijaya. Namun pengangkatan Nambi sebagai Maha Patih ini ditentang oleh Ronggolawe dan terjadilah perang besar antara Tuban melawan Majaphit yang berakhir dengan gugurnya Ronggolawe pada tahun 1295 Masehi.

Dalam karirnya, Mpu nambi dikenal sebagai seorang yang pendiam, lemah lembut dan setia kawan. Ia adalah seorang ahli administrasi yang ulung sehingga keahlian ini yang menjadikan raden Wijaya menunjuknya sebagai Mahapa Patih. Namun sepeninggal Raden Wijaya, kedudukan Mpu Nambi sebagaoi Maha Patih digoyang oleh seoarang penasehat wangsa sinelir bernama Mahapati. Raja Jayanagara sebagai pengganti Raden Wijaya termakan hasutannya dan menyingkirkan Maha Patih Nambi dalam kegiatan kerajaan. Penyingkiran secara halus ini kemudian mendapat momentum ketika Arya Wiraraja sakit, dimana ia kemudian menengok ke Lumajang dan tidak mau kembali ke Majapahit. Hal ini kemudian menjadi bahan fitnah dimana sang Maha Patih dituduh hendak memberontak.

Pada tahun 1316 Masehi, Arya Wiraraja yang merupakan raja Lamajang Tigang Juru dan seorang penasehat Raden Wijaya dalam perjuangan meninggal dan kejadioan ini kemudian dimanfaatkan oleh raja Jayanagara untuk menyerang Lamajang Tigang Juru. Mpu nambi yang masih melakukan konsolidasi kekuatan kemudian harus menghadapi serbuan mendadak kemudian membuat perlawanan. Benteng pertahanan Lamajang Tiagang Juru di Ganding dapat dipatahkan dengan mudah dan kemudian Mpu Nambi dan pasukan Lamajang Tigang Juru berusaha mempertahankan ibu kota Arnon (Situs Biting sekarang). Mpu Nambi tidak ingin ibu kota Lamajang rusak oleh peperangan sehingga menyiapkan pasukan di daerah “Rabut Buhayabang” (Candi Agung sekarang). Akhirnya setelah peperangan besar dan berlangsung sengit, akhirnya Mpu Nambi dikeroyok oleh 3 panglima majapahit yaitu Jabung Trewes, Lembu Peteng dan Ikal Ikalan Bang sehingga gugur. Setelah Mpu Nambi gugur, terjadilah pembantaian besar-besaran pada rakyat Lamajang Tigang Juru termasuk keluarga Mpu Nambi.

Subscribe Our Newsletter