-->

    Social Items



Pisang raja adalah makanan khas Lumajang. Hal ini yang membuat Kota Lumajang di kenal dengan Kota pisang selama ini. Kota pisang ini terletak disebelah barat Jatiroto Kabupaten Lumajang. Beberapa desa telah berdiri di Kota Lumajang, termasuk salah satunya Desa Randuagung. Desa ini terletak agak jauh dari keramaian Kota Lumajang. Posisi Desa Randuagung yang berkabupaten Lumajang ini berada di sebelah timur Desa Klakah. Desa Randuagung ini juga merupakan Kecamatan yang dulunya menaungi empat belas desa di sekitarnya. Namun sekarang hanya tinggal dua belas desa yang berkecamatan Randuagung.

Setiap desa maupun kota pastinya mempunyai sejarah atau suatu kejadian yang telah terjadi pada zaman dahulu yang membuat desa ataupun kota tersebut dinamakan atas adanya hal tersebut. Tak terkecuali Desa Randuagung. Desa Randuagung memiliki suatu sejarah yang mungkin tidak seluruh masyarakat Lumajang mengetahuinya. Menurut masyarakat Randuagung setempat, desa ini dinamakan Desa Randuagung karena dulu adanya pohon randu raksasa yang terletak di Desa Gedangmas Kecamatan Randuagung. Pohon randu ini begitu sangat besar dengan diameter ± 7 meter. “ Saking besarnya pohon randu, meskipun dipeluk oleh 4 orang yang saling berpegangan tangan masih belum bisa memeluk penuh pohon tersebut” ujar Nurhayati warga Randuagung. Karena adanya pohon randu raksasa tersebut, desa ini di namakan Desa Randuagung. Dimana randu adalah nama sebuah pohon dan agung yang berarti besar, sehingga dapat di simpulkan maksud dari nama Randuagung adalah pohon randu yang besar. Namun sekarang pohon randu tersebut sudah mati dengan sendirinya tanpa penyebab apapun.

Di Desa Randuagung terdapat suatu peninggalan sejarah yaitu sebuah candi. Keberadaannya di Desa Randuagung menjadikan candi ini dinamakan mengikuti nama Desa Randuagung oleh masyarakat sekitar sehingga disebut dengan candi agung. Candi agung ini begitu banyak menyimpan sejarah pada zaman dahulu. Khusunya pada zaman penjajahan belanda, candi ini digunakan oleh masyarakat sekitar sebagai tempat persembunyian dikala pasukan belanda datang menyerbu. Sekaligus candi ini juga digunakan sebagai tempat penyorotan datang tidaknya pasukan belanda agar penyorot tersebut dengan mudah memberikan aba-aba kepada masyarakat sekitar untuk waspada.

Setelah masa penjajahan belanda berlangsung, candi tersebut masih belum terawat baik hingga ada sesepuh Bapak sahak yang mulai merawatnya. Beliau merawat candi tersebut dimulai dengan membuat beberapa hektar sawah di sebelah barat candi. Sawah tersebut di tanamani dengan bermacam-macam tanaman seperti padi, jagung dan sebagainya. Bagian sebelah timur dan sebelah utaranya dibuat sebuah kolam oleh Bapak kades. Sementara itu bagian sebalah utaranya dibuat sebuah jalan menuju candi agung tersebut oleh Bapak sahak. Semenjak itu masyarakat sekitar menganggap Bapak sahak adalah juru kunci di candi agung tersebut. Masyarakat sekitar mengungkapkan bahwa Bapak sahak ini masih tersangkut G30S PKI. Ketika candi agung sudah terlihat bagus dan indah menurut penilaian mata, beliau menurunkan jabatannya kepada Ibu sawok. Seiring dengan waktu membawa Bapak sahak meninggal dunia saat beliau berumur 125 tahun. Sementara untuk jabatan Ibu sawok, beliau turunkan kepada sawok selaku anaknya.

Sekarang keadaan candi agung tak sebagus saat zaman penjajahan belanda melainkan seperti tumpukan batu bata yang tidak tertata rapi. Namun disekitar candi agung ini masih tumbuh tanaman dan pepohonan yang dibentuk sekian rupa guna memperindah tempat candi agung. Terdapat juga kantor dan beberapa peraturan yang berlaku untuk para pengunjung. Hal ini terbukti bahwa salah satu peninggalan sejarah ini masih dihargai dan dilestarikan. Menurut masyarakat sekitar yang tampak sekarang itu hanya bagian kepala saja dari candi agung dan seluruh badannya tenggelam.

“Candi agung ini telah ada pada masa kerajaan majapahit lebih tepatnya pada masa Raja Minak Koncar” ketus masrufi warga Randuagung. Sebenarnya masih belum jelas kapan terbentuknya candi agung tersebut karena memang pada masa Raja Minak Koncar, candi agung tersebut sudah terbentuk dan bertempatkan di Desa Randuagung. “Didalam candi ada gua yang dapat tembus ke Minak Koncar” ujar pria 38 tahun itu lagi. Minak Koncar ini terletak di Bondoyudo, Sukodono Lumajang. Gua yang berada di dalam candi tersebut di lengkapi dengan archa yang merupakan salah satu syarat sebuah candi. “Archanya berbentuk seperti orang yang sedang duduk bersilah dengan kedua tangan yang berada di atas lututnya, tetapi hidungnya adalah hidung gajah yang panjang hingga menyentuh lutut kanannya” jelas Mbah Supartu salah satu sesepuh di Randuagung.

Kabarnya, archa yang merupakan nilai estetika dari candi tersebut telah dibawa oleh budayawan untuk di museumkan di Jakarta. Archa tersebut ditemani dengan tetesan air dari gua tersebut. Tidak hanya masalah archa, beberapa mitos juga ada pada candi tersebut. Mitos tentang adanya bunyi gamelan setiap malam jumat legi di candi agung tersebut. Sedangkan menurut Mbah Supartu bunyi tersebut hampir setiap malam hari ada. Kadang ada bunyi orang yang sedang memupuk padi yang menunjukkan bahwa padi-padi akan kopong. Hal itu memang kadang benar-benar terjadi dan masyarakat dulu mempercayainya. “Sekarang sudah tidak ada bunyi gamelan itu” imbuhnya.


Bercak Semu Candi Agung



Pisang raja adalah makanan khas Lumajang. Hal ini yang membuat Kota Lumajang di kenal dengan Kota pisang selama ini. Kota pisang ini terletak disebelah barat Jatiroto Kabupaten Lumajang. Beberapa desa telah berdiri di Kota Lumajang, termasuk salah satunya Desa Randuagung. Desa ini terletak agak jauh dari keramaian Kota Lumajang. Posisi Desa Randuagung yang berkabupaten Lumajang ini berada di sebelah timur Desa Klakah. Desa Randuagung ini juga merupakan Kecamatan yang dulunya menaungi empat belas desa di sekitarnya. Namun sekarang hanya tinggal dua belas desa yang berkecamatan Randuagung.

Setiap desa maupun kota pastinya mempunyai sejarah atau suatu kejadian yang telah terjadi pada zaman dahulu yang membuat desa ataupun kota tersebut dinamakan atas adanya hal tersebut. Tak terkecuali Desa Randuagung. Desa Randuagung memiliki suatu sejarah yang mungkin tidak seluruh masyarakat Lumajang mengetahuinya. Menurut masyarakat Randuagung setempat, desa ini dinamakan Desa Randuagung karena dulu adanya pohon randu raksasa yang terletak di Desa Gedangmas Kecamatan Randuagung. Pohon randu ini begitu sangat besar dengan diameter ± 7 meter. “ Saking besarnya pohon randu, meskipun dipeluk oleh 4 orang yang saling berpegangan tangan masih belum bisa memeluk penuh pohon tersebut” ujar Nurhayati warga Randuagung. Karena adanya pohon randu raksasa tersebut, desa ini di namakan Desa Randuagung. Dimana randu adalah nama sebuah pohon dan agung yang berarti besar, sehingga dapat di simpulkan maksud dari nama Randuagung adalah pohon randu yang besar. Namun sekarang pohon randu tersebut sudah mati dengan sendirinya tanpa penyebab apapun.

Di Desa Randuagung terdapat suatu peninggalan sejarah yaitu sebuah candi. Keberadaannya di Desa Randuagung menjadikan candi ini dinamakan mengikuti nama Desa Randuagung oleh masyarakat sekitar sehingga disebut dengan candi agung. Candi agung ini begitu banyak menyimpan sejarah pada zaman dahulu. Khusunya pada zaman penjajahan belanda, candi ini digunakan oleh masyarakat sekitar sebagai tempat persembunyian dikala pasukan belanda datang menyerbu. Sekaligus candi ini juga digunakan sebagai tempat penyorotan datang tidaknya pasukan belanda agar penyorot tersebut dengan mudah memberikan aba-aba kepada masyarakat sekitar untuk waspada.

Setelah masa penjajahan belanda berlangsung, candi tersebut masih belum terawat baik hingga ada sesepuh Bapak sahak yang mulai merawatnya. Beliau merawat candi tersebut dimulai dengan membuat beberapa hektar sawah di sebelah barat candi. Sawah tersebut di tanamani dengan bermacam-macam tanaman seperti padi, jagung dan sebagainya. Bagian sebelah timur dan sebelah utaranya dibuat sebuah kolam oleh Bapak kades. Sementara itu bagian sebalah utaranya dibuat sebuah jalan menuju candi agung tersebut oleh Bapak sahak. Semenjak itu masyarakat sekitar menganggap Bapak sahak adalah juru kunci di candi agung tersebut. Masyarakat sekitar mengungkapkan bahwa Bapak sahak ini masih tersangkut G30S PKI. Ketika candi agung sudah terlihat bagus dan indah menurut penilaian mata, beliau menurunkan jabatannya kepada Ibu sawok. Seiring dengan waktu membawa Bapak sahak meninggal dunia saat beliau berumur 125 tahun. Sementara untuk jabatan Ibu sawok, beliau turunkan kepada sawok selaku anaknya.

Sekarang keadaan candi agung tak sebagus saat zaman penjajahan belanda melainkan seperti tumpukan batu bata yang tidak tertata rapi. Namun disekitar candi agung ini masih tumbuh tanaman dan pepohonan yang dibentuk sekian rupa guna memperindah tempat candi agung. Terdapat juga kantor dan beberapa peraturan yang berlaku untuk para pengunjung. Hal ini terbukti bahwa salah satu peninggalan sejarah ini masih dihargai dan dilestarikan. Menurut masyarakat sekitar yang tampak sekarang itu hanya bagian kepala saja dari candi agung dan seluruh badannya tenggelam.

“Candi agung ini telah ada pada masa kerajaan majapahit lebih tepatnya pada masa Raja Minak Koncar” ketus masrufi warga Randuagung. Sebenarnya masih belum jelas kapan terbentuknya candi agung tersebut karena memang pada masa Raja Minak Koncar, candi agung tersebut sudah terbentuk dan bertempatkan di Desa Randuagung. “Didalam candi ada gua yang dapat tembus ke Minak Koncar” ujar pria 38 tahun itu lagi. Minak Koncar ini terletak di Bondoyudo, Sukodono Lumajang. Gua yang berada di dalam candi tersebut di lengkapi dengan archa yang merupakan salah satu syarat sebuah candi. “Archanya berbentuk seperti orang yang sedang duduk bersilah dengan kedua tangan yang berada di atas lututnya, tetapi hidungnya adalah hidung gajah yang panjang hingga menyentuh lutut kanannya” jelas Mbah Supartu salah satu sesepuh di Randuagung.

Kabarnya, archa yang merupakan nilai estetika dari candi tersebut telah dibawa oleh budayawan untuk di museumkan di Jakarta. Archa tersebut ditemani dengan tetesan air dari gua tersebut. Tidak hanya masalah archa, beberapa mitos juga ada pada candi tersebut. Mitos tentang adanya bunyi gamelan setiap malam jumat legi di candi agung tersebut. Sedangkan menurut Mbah Supartu bunyi tersebut hampir setiap malam hari ada. Kadang ada bunyi orang yang sedang memupuk padi yang menunjukkan bahwa padi-padi akan kopong. Hal itu memang kadang benar-benar terjadi dan masyarakat dulu mempercayainya. “Sekarang sudah tidak ada bunyi gamelan itu” imbuhnya.


Subscribe Our Newsletter