-->

    Social Items


Suasana dipelataran Candi Agung, sebuah candi peninggalan Maha Patih Nambi yang berada di Desa Randu Agung, Kecamatan Randu Agung pada hari Rabu pagi (29/10) sungguh berbeda dari biasanya. Ratusan siswa dan para pemuda berdatangan untuk menghadiri acara memperingati “Sumpah Pemuda” dengan melakukan dialog interaktif tentang cagar budaya.

Namun sangat di sayangkan dari beberapa elemen kepemerintahan yang ada di tingkat kecamatan randuagung tidak ada yang menghadiri acara tersebut di karenakan dari beberapa elemen tersebut ada kegiatan yang lain, Namun Laskar patih nambi terlihat lega ketika dari Dinas Pariwisata dan Kebudayaaan dan PemKab bagian Humas hadir di acara tersebut .

Bahkan dari dinas Pariwisata dan Kebudayaan siap untuk mengawal teman – teman laskar patih nambi untuk ikut serta dalam pembagunan infra struktural nanti kedepan ( tutur dari Ibu Sri Gading dari perwakilan DisBudPar )

Diskusi ini mendatangkan nara sumber yaitu Rina Rohmawati SS.,M.Hum yang jga merupakan dosen sejarah IKIP Jember dan penulis buku sejarah Lumajang, Mansur Hidayat, SS.,MM. Acara yang di moderatori oleh Aminulla Husen.SPd.I. yang merupakan salah satu aktifis Laskar Patih Nambi ini berlangsung dengan suasana gayeng, namun penuh semangat.

Dalam pemaparannya Rina Rohmawati menceritakan selayang pandang tentang sejarah Maha Patih Nambi yang punya prestasi besar di kerajaan Majapahit, namun kemudian gugur ketika terjadi intrik politik di istana Majapahit yang kemudian berujung penyerangan Maha Patih Nambi yang berkedudukan di Lamajang. Maha Patih Nambi yang sudah menjadi raja di Lamajang menggantikan ayahnya yaitu Arya Wiraraja yang meninggal dunia kemudian mempertahankan diri dan gugur membela kebesaran kerajaan Lamajang Tigang Juru.

Sebagai nara sumber kedua, Mansur Hidayat kemudian menjelaskan bagaimana Maha Patih Nambi yang berkedudukan di Rabut Buhayabang kemudian mendirikan tempat persembahyangan untuk mendekatakan diri kepada sang maha kuasa. Candi tersebut reruntuhannya masih bisa kita saksikan sebagai Candi Agung dewasa ini. Candi ini menghadap ke arah barat yaitu ke arah gunung Semeru karena pada saat itu aliran Syiwa sangat mengagungkan gunung ini sebagai tempat bersemayamnya sang Betara Syiwa. Untuk Candi Agung sendiri banyak temuan yang memperkuat bahwa candi ini bersifat Syiwa seperti di dapatkan seperti patung Ganesha (sekarang raib).

Setelah memaparkan tentang perjalanan Maha Patih Nambi dan kerajaan Lamajang Tigang Juru, para peserta juga mepertanyakan bagaimana tokoh ini diperkenalkan lebih jauh kepada masyarakat Lumajang. Salah satu yang di tawarkan adalah menjadikan nama Maha Patih Nambi maupun Arya Wiraraja yang saling berkait untuk di jadikan icon nama jalan di Kabupaten Lumajang. Acara diskusi ini kemudian di tutup dengan pembacaan ikrar “Sumpah Pemuda” dan diteruskan dengan ikrar “Sumpah Cagar Budaya” dari pemuda Lumajang untuk pelestarian Cagar Budaya Lumajang pada khusunya dan Indonesia pada umumnya. Setelah pembacaan ikrar tersebut, nara sumber dan ratusan peserta menanda tangani dukungan terhadap “Sumpah Cagar Budaya” diatas kain putih. Namun anehnya, perwakilan dari Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Lumajang menolak untuk menanda tanganinya.

Laskar Patih Nambi Canangkan Sumpah Cagar Budaya


Suasana dipelataran Candi Agung, sebuah candi peninggalan Maha Patih Nambi yang berada di Desa Randu Agung, Kecamatan Randu Agung pada hari Rabu pagi (29/10) sungguh berbeda dari biasanya. Ratusan siswa dan para pemuda berdatangan untuk menghadiri acara memperingati “Sumpah Pemuda” dengan melakukan dialog interaktif tentang cagar budaya.

Namun sangat di sayangkan dari beberapa elemen kepemerintahan yang ada di tingkat kecamatan randuagung tidak ada yang menghadiri acara tersebut di karenakan dari beberapa elemen tersebut ada kegiatan yang lain, Namun Laskar patih nambi terlihat lega ketika dari Dinas Pariwisata dan Kebudayaaan dan PemKab bagian Humas hadir di acara tersebut .

Bahkan dari dinas Pariwisata dan Kebudayaan siap untuk mengawal teman – teman laskar patih nambi untuk ikut serta dalam pembagunan infra struktural nanti kedepan ( tutur dari Ibu Sri Gading dari perwakilan DisBudPar )

Diskusi ini mendatangkan nara sumber yaitu Rina Rohmawati SS.,M.Hum yang jga merupakan dosen sejarah IKIP Jember dan penulis buku sejarah Lumajang, Mansur Hidayat, SS.,MM. Acara yang di moderatori oleh Aminulla Husen.SPd.I. yang merupakan salah satu aktifis Laskar Patih Nambi ini berlangsung dengan suasana gayeng, namun penuh semangat.

Dalam pemaparannya Rina Rohmawati menceritakan selayang pandang tentang sejarah Maha Patih Nambi yang punya prestasi besar di kerajaan Majapahit, namun kemudian gugur ketika terjadi intrik politik di istana Majapahit yang kemudian berujung penyerangan Maha Patih Nambi yang berkedudukan di Lamajang. Maha Patih Nambi yang sudah menjadi raja di Lamajang menggantikan ayahnya yaitu Arya Wiraraja yang meninggal dunia kemudian mempertahankan diri dan gugur membela kebesaran kerajaan Lamajang Tigang Juru.

Sebagai nara sumber kedua, Mansur Hidayat kemudian menjelaskan bagaimana Maha Patih Nambi yang berkedudukan di Rabut Buhayabang kemudian mendirikan tempat persembahyangan untuk mendekatakan diri kepada sang maha kuasa. Candi tersebut reruntuhannya masih bisa kita saksikan sebagai Candi Agung dewasa ini. Candi ini menghadap ke arah barat yaitu ke arah gunung Semeru karena pada saat itu aliran Syiwa sangat mengagungkan gunung ini sebagai tempat bersemayamnya sang Betara Syiwa. Untuk Candi Agung sendiri banyak temuan yang memperkuat bahwa candi ini bersifat Syiwa seperti di dapatkan seperti patung Ganesha (sekarang raib).

Setelah memaparkan tentang perjalanan Maha Patih Nambi dan kerajaan Lamajang Tigang Juru, para peserta juga mepertanyakan bagaimana tokoh ini diperkenalkan lebih jauh kepada masyarakat Lumajang. Salah satu yang di tawarkan adalah menjadikan nama Maha Patih Nambi maupun Arya Wiraraja yang saling berkait untuk di jadikan icon nama jalan di Kabupaten Lumajang. Acara diskusi ini kemudian di tutup dengan pembacaan ikrar “Sumpah Pemuda” dan diteruskan dengan ikrar “Sumpah Cagar Budaya” dari pemuda Lumajang untuk pelestarian Cagar Budaya Lumajang pada khusunya dan Indonesia pada umumnya. Setelah pembacaan ikrar tersebut, nara sumber dan ratusan peserta menanda tangani dukungan terhadap “Sumpah Cagar Budaya” diatas kain putih. Namun anehnya, perwakilan dari Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Lumajang menolak untuk menanda tanganinya.

Subscribe Our Newsletter