-->

    Social Items


Meski hanya klub level tarkam namun klub sepak bola di Randuagung ini sempat menelorkan banyak bintang. Mereka tidak hanya bersinar di klub - klub besar nusantara, bahkan ada juga yang menjadi pemain andalan tim nasional. Klub itu bernama Gelora Putra.

Kejayaan klub tarkam ini terlihat mulai 1993. Saat itu generasi yang mengisi angkatan tersebut punya tekad yang kuat terhadap persepakbolaan. Mereka secara mandiri dengan di bantu oleh pelatih secara serius berlatih sepak bola.

Nama - nama besar yang muncul dari Gelora Putra itu adalah Hendro Kartiko mantan pemain Timnas, Ahmad Junaidi, Dan Zainuri. Ketiga nama itu dulu pernah mengusai Lumajang. Kemudian mampu menembus persaingan pemain di klub-klub profesional.



Saat itu, generasi 1993 berbeda dengan sekarang. Mereka masih kesulitan dengan fasilitas berupa sepatu dan bola. Namun, mereka tidak pernah lelah utuk latihan rutin. DI tambah dengan latihan sendiri. "Dulu itu kalau sudah latihan, nambah latihan sendiri," kata Abdul Wafi, salah satu generasi 93.

Sekarang Abdul Wafi juga ikut menjadi pengurus Gelora Putra. Dia dan beberapa pengurus lainnya bertekad untuk menghidupkan kembali Gelora Putra yang sudah Vakum sejak lama. "Baru 2013 lalu Gelora Putra mulai mengawali kembali," kata Wafi.

Abdul Wafi menceritakan, saat generasi 93 itu dia bersama dengan kawan-kawannya seperti Hendro Kartiko, Zainuri, dan Ahmad Junaedi. Wafi termasuk salah satu yang juga ditarik oleh PSIL saat itu. Namun, keberuntungan lebih besar di dapat oleh ketiga temannya itu. Sedangkan dirinya hanya sampai di PSIL. "Teman-teman yang lain setelah masuk di PSIL kemudian di ambil oleh Persebaya. Kemudian pindah-pindah wes," kata Wafi.



Bahkan saat itu, Gelora Putra menjadi Tim yang sangat di segani di Kabupaten Lumajang. Bahkan sering kali berkerjasama dengan klub Sepak bola Probolinggo. "Seringnya kita dibon sama klub asal Probolinggo," kata Wafi.

Nama Gelora Putra terus menguat. Hingga paraq pemain-pemainnya yang berpengaruh di ambil oleh klub-klub nusantara. Sementara Gelora Putra sendiri pada 1996 mengalami penurunan. "Jaya-jayanya waktu itu ya 1993 sampai 1996," kata Wafi.

Pasca 1996, Gelora Putra Vakum. Tidak ada yang mau meneruskan Gelora Putra. Banyak persoalan yang terjadi. Utamanya adalah para kader di Randuagung. "1996 Vakum, terus sampai 2013 baru mulai lagi," kenang Wafi.

Mulai tahun itulah Wafi dan beberapa temannya kembali mencoba mengumpulkan beberapa pemuda-pemuda Randuagung, kepengurusan di bentuk dan pelatih di pilih dengan modal seadanya, Gelora Putra mulai menata kembali bagaimana caranya biar bisa membentuk para pemain yang hebat. "Pelatihnya dari kita sendiri yaitu Kusmanto, dia juga pernah di Persebaya tapi usia junior," kata Wafi.

Kini, anggota Gelora putra mencapai 55 orang. Terdiri dari anak-anak usia 12 sampai dewasa. Gelora Putra dibagi menjadi tiga tim yaitu A,B dan C. Setiap bulannya mereka rutin melakukan latih tanding ke klub-klub Lumajang hingga di Kabupaten tetangga.



"Minggu depan kami akan ke Sumber Baru sama Barata Tanggul," Kata Wafi. Namun demikian ada satu hal yang masih disayangkan oleh Wafi. Anak-anak sekarang meski punya fasilitas yang lengkap, namun tidak terlalu serius. Wafi mencontohkan saat dirinya dan teman-temannya dulu masih aktif bermain, sering mencari waktu latihan sendiri. "Makanya tidak heran kalau dulu banyak yang berhasil dari pada sekarang," kata Wafi.

Wafi mengakui, bahwa apa yang mereka lakukan tidak ada imbalannya. Kecuali hanya kebanggaan ketika anak didiknya bisa berprestasi. Karena memang awal keinginan untuk kembali mengaktifkan Gelora putra adalah kerinduan saat dulu pernah aktif di Gelora Putra.

"Kami sudah bangga ketika anak-anak bisa berprestasi. Apalagi di ambil oleh klub-klub Profesional," pungkas Wafi. (dt/ras)


Di salin dari Surat Kabar JAWA POS Radar Semeru, Edisi Sabtu 20 Februari 2016

Sempat Terpuruk, Klub Sepak Bola Asal Randuagung "Gelora Putra FC" optimis bangkit lagi


Meski hanya klub level tarkam namun klub sepak bola di Randuagung ini sempat menelorkan banyak bintang. Mereka tidak hanya bersinar di klub - klub besar nusantara, bahkan ada juga yang menjadi pemain andalan tim nasional. Klub itu bernama Gelora Putra.

Kejayaan klub tarkam ini terlihat mulai 1993. Saat itu generasi yang mengisi angkatan tersebut punya tekad yang kuat terhadap persepakbolaan. Mereka secara mandiri dengan di bantu oleh pelatih secara serius berlatih sepak bola.

Nama - nama besar yang muncul dari Gelora Putra itu adalah Hendro Kartiko mantan pemain Timnas, Ahmad Junaidi, Dan Zainuri. Ketiga nama itu dulu pernah mengusai Lumajang. Kemudian mampu menembus persaingan pemain di klub-klub profesional.



Saat itu, generasi 1993 berbeda dengan sekarang. Mereka masih kesulitan dengan fasilitas berupa sepatu dan bola. Namun, mereka tidak pernah lelah utuk latihan rutin. DI tambah dengan latihan sendiri. "Dulu itu kalau sudah latihan, nambah latihan sendiri," kata Abdul Wafi, salah satu generasi 93.

Sekarang Abdul Wafi juga ikut menjadi pengurus Gelora Putra. Dia dan beberapa pengurus lainnya bertekad untuk menghidupkan kembali Gelora Putra yang sudah Vakum sejak lama. "Baru 2013 lalu Gelora Putra mulai mengawali kembali," kata Wafi.

Abdul Wafi menceritakan, saat generasi 93 itu dia bersama dengan kawan-kawannya seperti Hendro Kartiko, Zainuri, dan Ahmad Junaedi. Wafi termasuk salah satu yang juga ditarik oleh PSIL saat itu. Namun, keberuntungan lebih besar di dapat oleh ketiga temannya itu. Sedangkan dirinya hanya sampai di PSIL. "Teman-teman yang lain setelah masuk di PSIL kemudian di ambil oleh Persebaya. Kemudian pindah-pindah wes," kata Wafi.



Bahkan saat itu, Gelora Putra menjadi Tim yang sangat di segani di Kabupaten Lumajang. Bahkan sering kali berkerjasama dengan klub Sepak bola Probolinggo. "Seringnya kita dibon sama klub asal Probolinggo," kata Wafi.

Nama Gelora Putra terus menguat. Hingga paraq pemain-pemainnya yang berpengaruh di ambil oleh klub-klub nusantara. Sementara Gelora Putra sendiri pada 1996 mengalami penurunan. "Jaya-jayanya waktu itu ya 1993 sampai 1996," kata Wafi.

Pasca 1996, Gelora Putra Vakum. Tidak ada yang mau meneruskan Gelora Putra. Banyak persoalan yang terjadi. Utamanya adalah para kader di Randuagung. "1996 Vakum, terus sampai 2013 baru mulai lagi," kenang Wafi.

Mulai tahun itulah Wafi dan beberapa temannya kembali mencoba mengumpulkan beberapa pemuda-pemuda Randuagung, kepengurusan di bentuk dan pelatih di pilih dengan modal seadanya, Gelora Putra mulai menata kembali bagaimana caranya biar bisa membentuk para pemain yang hebat. "Pelatihnya dari kita sendiri yaitu Kusmanto, dia juga pernah di Persebaya tapi usia junior," kata Wafi.

Kini, anggota Gelora putra mencapai 55 orang. Terdiri dari anak-anak usia 12 sampai dewasa. Gelora Putra dibagi menjadi tiga tim yaitu A,B dan C. Setiap bulannya mereka rutin melakukan latih tanding ke klub-klub Lumajang hingga di Kabupaten tetangga.



"Minggu depan kami akan ke Sumber Baru sama Barata Tanggul," Kata Wafi. Namun demikian ada satu hal yang masih disayangkan oleh Wafi. Anak-anak sekarang meski punya fasilitas yang lengkap, namun tidak terlalu serius. Wafi mencontohkan saat dirinya dan teman-temannya dulu masih aktif bermain, sering mencari waktu latihan sendiri. "Makanya tidak heran kalau dulu banyak yang berhasil dari pada sekarang," kata Wafi.

Wafi mengakui, bahwa apa yang mereka lakukan tidak ada imbalannya. Kecuali hanya kebanggaan ketika anak didiknya bisa berprestasi. Karena memang awal keinginan untuk kembali mengaktifkan Gelora putra adalah kerinduan saat dulu pernah aktif di Gelora Putra.

"Kami sudah bangga ketika anak-anak bisa berprestasi. Apalagi di ambil oleh klub-klub Profesional," pungkas Wafi. (dt/ras)


Di salin dari Surat Kabar JAWA POS Radar Semeru, Edisi Sabtu 20 Februari 2016

Subscribe Our Newsletter