-->

    Social Items



“Bukan laki-laki yang hendak kita lawan, melainkan pikiran kotor dan adat usang” – R.A. Kartini


Pada dasarnya hak dan kewajiban semua manusia adalah sama, begitu juga perempuan. Perempuan juga memiliki hak yang sama untuk menjalani hidup yang nyaman dan damai. Namun atas nama semena-mena hingga memungkinkan melakukan tindak kekerasan terhadap perempuan.


UN Women menyatakan 1 dari 3 perempuan di dunia pernah mengalami kekerasan berbasis gender dalam hidupnya. Sedangkan RAINN menyatakan 8 dari 10 kasus kekerasan seksual dilakukan oleh orang yang dikenal korban. Serta Komnas Perempuan juga mengatakan 75% kasus kekerasan terhadap perempuan di Indonesia berasal dari ranah personal (keluarga). Hal tersebut membuktikan bahwa kekerasan terhadap perempuan masih menjadi permasalahan pelik masyarakat.


Kampanye mengenai anti kekerasan dan diskriminasi ditetapkan dan diperingati di seluruh dunia setiap tanggal 25 November (Hari Anti Kekerasan Terhadap Perempuan Internasional). Tanggal tersebut dipilih dalam rangka menghubungkan secara simbolik antara kekerasan terhadap perempuan dan isu HAM. Serta penekanan bahwa kekerasan pada perempuan adalah pelanggaran HAM. Aktivitas ini pertama kali digagas oleh Women’s Global Leadership Institute pada 1991 yang disponsori oleh center for Women’s Global Leadership, yang akan berlangsung tiap tahun “16 Hari Anti Kekerasan Terhadap Perempuan” dari tanggal 25 November – 10 Desember.


Peringatan ini terus dilakukan sebagai upaya dunia untuk menghormati HAM dan tidak untuk mengulangi tindakan-tindakan kekerasan dan pelanggaran HAM terhadap kaum perempuan. Selain itu untuk membuat masyarakat sadar akan pentingnya usaha bersama untuk menuntaskan permasalahan kekerasan terhadap perempuan.


Jangan biarkan siapa pun menorehkan sejarah kelam dengan merendahkan perempuan. Terbebas dari segala bentuk penjajahan baik psikis apalagi fisik. Semoga dengan kampanye yang terus berulang-ulang dapat membangkitkan sisi kemanusiaan dan mengurangi kejadian-kejadian pelanggaran HAM serta kekerasan terhadap kaum perempuan di seluruh dunia.


Mari bersatu hapuskan kekerasan pada perempuan.



Bersatu Hentikan Kekerasan Pada Perempuan



“Bukan laki-laki yang hendak kita lawan, melainkan pikiran kotor dan adat usang” – R.A. Kartini


Pada dasarnya hak dan kewajiban semua manusia adalah sama, begitu juga perempuan. Perempuan juga memiliki hak yang sama untuk menjalani hidup yang nyaman dan damai. Namun atas nama semena-mena hingga memungkinkan melakukan tindak kekerasan terhadap perempuan.


UN Women menyatakan 1 dari 3 perempuan di dunia pernah mengalami kekerasan berbasis gender dalam hidupnya. Sedangkan RAINN menyatakan 8 dari 10 kasus kekerasan seksual dilakukan oleh orang yang dikenal korban. Serta Komnas Perempuan juga mengatakan 75% kasus kekerasan terhadap perempuan di Indonesia berasal dari ranah personal (keluarga). Hal tersebut membuktikan bahwa kekerasan terhadap perempuan masih menjadi permasalahan pelik masyarakat.


Kampanye mengenai anti kekerasan dan diskriminasi ditetapkan dan diperingati di seluruh dunia setiap tanggal 25 November (Hari Anti Kekerasan Terhadap Perempuan Internasional). Tanggal tersebut dipilih dalam rangka menghubungkan secara simbolik antara kekerasan terhadap perempuan dan isu HAM. Serta penekanan bahwa kekerasan pada perempuan adalah pelanggaran HAM. Aktivitas ini pertama kali digagas oleh Women’s Global Leadership Institute pada 1991 yang disponsori oleh center for Women’s Global Leadership, yang akan berlangsung tiap tahun “16 Hari Anti Kekerasan Terhadap Perempuan” dari tanggal 25 November – 10 Desember.


Peringatan ini terus dilakukan sebagai upaya dunia untuk menghormati HAM dan tidak untuk mengulangi tindakan-tindakan kekerasan dan pelanggaran HAM terhadap kaum perempuan. Selain itu untuk membuat masyarakat sadar akan pentingnya usaha bersama untuk menuntaskan permasalahan kekerasan terhadap perempuan.


Jangan biarkan siapa pun menorehkan sejarah kelam dengan merendahkan perempuan. Terbebas dari segala bentuk penjajahan baik psikis apalagi fisik. Semoga dengan kampanye yang terus berulang-ulang dapat membangkitkan sisi kemanusiaan dan mengurangi kejadian-kejadian pelanggaran HAM serta kekerasan terhadap kaum perempuan di seluruh dunia.


Mari bersatu hapuskan kekerasan pada perempuan.



Subscribe Our Newsletter